Saturday, January 18, 2014

Aku dan Saudara-saudaraku




Aku merupakan anak tertua dalam keluarga kami. Dan aku memiliki dua orang adik, Iva dan Salma, mereka cewek. Layaknya anak pada umumnya, kami tentu memiliki sifat dan kebribadian yang berbeda-beda.
Ketika aku kecil
            Waktu kecil, aku merupakan anak penakut. Problem watu kelas 1 SD, aku tidak mau ditinggal. Alhasil ketika Bapakku nganterin aku, sesampainya di sekolah, aku dilempar layaknya orang ngebuang celana dalam bekas ke sungai (kurang lebihnya seperti itu). Aku takut waktu itu, karna aku belum kenal siapa-siapa.
            “Ayo turun Lif” rayu Bapakku ketika sampai di sekolahan.
            “Tapi pak, aku takut. Aku gak kenal siapa-siapa, nanti kalau ada temenku yang jahat gimana?”
            “Yaudah, tinggal panggil Ultraman kesayanganmu saja”
            “Ultraman kan hanya karangan pak”
            “Lalu kenapa kamu percaya kalau ada. Udah sana turun, Bapak mau berangkat kerja”
            “Tapi pak?” Bapak langsung menarik tangan dan menetengku mirip meneteng anak kucing, lalu mengangkatku dari atas motor, terus menaruhku di gerbang sekolah. “Pak, jangan tinggalkan aku, aku anakmu pak” tanpa basa-basi Bapak menelantarkanku. Untung aku punya sepupu yang juga sekolah di sana, dan mau mengakuiku sebagai sepupunya sebelum aku dikrubungi lalat.
            Selain itu tadi, ketika aku sudah kelas 5 SD, timbul kenakalan-kenakalanku yang lain. Aku merupakan siswa yang memiliki otak standard, tetapi ingin terlihat pintar. Untuk mendapatkan nilai yang bagus di raport, aku tidak perlu belajar semalaman suntuk, aku hanya perlu menuliskan nilai kesukaanku di raport. Ya, aku merubah nilaiku sendiri. Ketika mendapatkan raport, sebelum aku berikan ke orang tuaku, aku merubah nilai-nilaiku, waktu itu aku memang mafia yang kurang cerdik. Memang orang tuaku tidak menyadrinya, tetapi ketika raport aku kumpulin ke guruku, aku pun mendapat surat untuk pemanggilan orang tuaku.
            “Lif, tadi bapak ke skolahanmu. Kata gurumu, kamu tahun ini menjadi salah satu murid yang berprestasi” kata Bapakku disebuah malam.
            “Prestasi apa pak? Dan hadiah apa yang akan aku dapat?” tanyaku.
            “Prestasi kamu adalah sebagai satu-satunya siswa yang berani menuliskan nilainya sendiri di raport. Keren banget? Bapak gak nyangka lo kamu sehebat itu. Dan hadiahnya adalah, kamu akan bapak iket di pohon mangga depan rumah. Biar titit kamu yang kecil itu dimakan sama Genderuwo yang menghuni pohon mangga depan rumah. Pasti seru lif.”
            Seketika aku mikirin tititku yang kecil sedang dihidangkan di atas piring dan sedang disantap sama Genderuwo sekeluarga. Aku berfikir keras untuk menolak hadiah atas prestasiku sebagai murid terkreatif. Aku pura-pura hilang ingatan. Tapi gak jadi. Tar malah jadi kayak gini : “Anda siapa? Saya siapa? Dan di mana saya?”, terus Bapakku njawab, “Kamu anaknya Genderuwo depan rumah, ayo sana pulang ke Bapak Genderuwo dan Ibu Genderuwomu”. Untung saja itu tidak saya lakukan.
Iva Ainul Farichah
            Adikku yang ini merupakan adik yang cukup luarbiasa. Dia memiliki kemampuan yang hampir sama dengan Bapak. Dia pintar, agamanya kuat, kemampuan mengingatnya juga bagus, dan dia juga emosian. Selain itu, dia juga paling tidak bisa diajak bercanda.
            Suatu ketika adikku yang Salma menggoda Iva, saat itu pula perang saudara pecah. Mereka akan menggunakan benda apa saja untuk menjatuhkan lawan. Aku sempat berfikir, jika biasanya mereka menggunakan bantal ketika perang, apakah mereka akan menggunakan batu nisan buat pukul-pukulan jika nantinya mereka sudah mati.
Salma Arum Fuaida
            Salma adalah manusia paling kecil di rumah. Dia salah satu korba kutukan dari Bapak. Ketika Ibu masih hamil, Bapak paling suka mengejek keponakanku, karna rambutnya kriting. Alhasil, Salma sekarang memiliki rambut yang sama dengan anak yang diejek Bapak.
            Salma adalah anak yang pandai bermain drama. Ketika dia sedang dinasehati karna kenakalanya, dia selalu ekting.
            ”Kamu tu sudah kelas 2 SD. Mbok jangan nakal terus. Belajar, PR dikerjain. Apalagi kamu itu anak perempuan, jangan teriak-teriak gak jelas gitu” Nasehat Ibuku.
            “He, apa?” itulah yang keluar dari mulut Salma. Ketika itu Ibu berfikir, itu anak denger atau memang gak mudeng. Tapi ternyata Salma terus tertawa. Ya, dia ekting lagi.
Aku sendiri juga pernah kena aksi dramanya. Waktu itu hujan, dia mau brangkat sekolah, tapi bingung.
“Udah sana jalan pakai payung” usulku.
“Gak mau, capek kak. Anterin aku kak” ucapnya dengan wajah murung.
“Kakak mau ngerjain tugas kuliah, jalan sama temen-temenmu itu lo”
“Kakak itu gak sayang ya sama aku. Kalau nganterin Mbak Iva aja mau. Aku ini adekmu apa gak to kak?” sekarang berubah dengan wajah sedih.
Sekarang aku iba, benar-benar iba. “Cie-cie, kakak sedih ya. Senyum dong kayak gini. Yaudah aku berangkat dulu ya kak” Salma malah nertawain aku. Dan dia ternyata drama lagi.

Wednesday, January 8, 2014

Pembalut Merk Cowok




            Cewek kalau nyari pacar itu kayak nyari PEMBALUT. Gak percaya? Oke aku jelasin. Kriteria seorang cewek kalau mencari pembalut adalah, 1. Yang halus, dengan alasan agar gak kasar ketika nyentuh atau bergesekan sama itunya. 2. Cewek kalau milih pembalut, pasti nyari yang nyaman dengan alasan biar pas. 3. Selain itu tadi, pastinya cewek juga nyari pembalut yang gak tembus. 4. Pastinya seorang cewek kalau nyari pembalut, pasti yang berkualitas, gak mau yang merk abal-abal. Salah-salah itunya lecet.
            Sekarang aku kasih tahu persamaan antara PEMBALUT dengan COWOK di mata seorang cewek. Cewek kalau nyari pasang, ada beberapa kriteria 1. Yang halus, mana ada cewek mau pacaran sama cowok yang kasar. 2. Sama kayak pembalut, cewek juga pengen ketemu pasangan yang bisa bikin nyaman. 3. Kita bisa buat persamaan antara gak tembus dengan gak pembohong, cewek mana yang mau dibohongin. 4. Cewek juga maunya sama cowok yang berkualitas, alias  berduit. Untung dari sekian banyak persamaan tersebut, ada satu sifat softex yang gak dimiliki sama cowok, yaitu bersayap.
Simpulanya : Semakin sempurnanya pembalut cewek, semakin sempurna pula pacarnya.
            Untung manusia yang bisa PMS (Palang Merah Sementara) hayalah cewek saja. Coba bayangin kalau cowok bisa PMS. Pasti GARANG, gak hanya garang, pasti juga GANAS. Bayangin juga kalau misalnya Hulk yang sosoknya besar dan berwarna ijo (bukan kolor ijo lo) sedang PMS. Jangankan film perang, film kiamatpun gak bisa ngebunuh dia. Apa ini?.
            Bagi kaum-kaumku, cowok. Aku kasih tahu tentang cewek. Cewek kalau lagi PMS ganasnya melebihi sangkuriang yang bisa nendang prahu trus prahunya jadi gunung tangkuban prahu. Sangar abis. Aku pernah ngehadapin cewek yang lagi PMS. Yak, sama cewekku, tepatnya mantan.
            Ketika itu aku punya pacar yang satu fakultas sama aku, namanya Casa. Casa itu adik angkatantu. Waktu itu hari dimana kuliah hanya sampai siang. Kala itu, Casa berangkat maupun pulang bareng aku, karna memang tugasku kayak tukang ojek. Ketika hendak pulang, Casa bilang kalau dia mau nabung di Bank yang deket kampus kami, tapi uangnya ketinggalan. Akhirnya aku ngasih saran, kalau kami pulang dulu, terus nantinya baru balik ke Bank lagi. Dia nolak usulanku, dengan alasan “Aku gak enak beb ngrepotin kamu. Mending kamu anter aku pulang aja, soalnya aku capek banget”. Akhirnya setelah aku nganterin dia pulang, aku pun juga pulang dengan alasan biar dia bisa istirahat. Sesampainya di rimah, dia sms, “Beb, anterin aku ke Bank, SEKARANG!” (gila..... padahal aku baru nyampe rumah).
            Sesampainya di rumahnya, suasana horor. Dia murung dan diam. Tanpa basa-basi, dia bilang “Ayo berangkat ke Bank” (sumpah, aku Cuma bisa nurut). Sesampainya di Bank, suasana berubah, karna Banknya tutup. Dan yang terjadi adalah......
            “Beb, ma’afin aku” kata cewekke (kala itu) sambil nangis.
            “Udah gakpapa, kan kita juga gak tau kalau Banknya tutup”
            “Tapi kan aku udah ngrepotin kamu” dia meluk aku di depan Bank.
            Sebetulnya aku sendiri juga jengkel, tapi aku kalah sama “air matanya”. Bagaimana tidak, cowok mana yang tahan liat pacarnya nangis. Bukan karna simpatik atau ngerasa bersalah. Tapi, ketika cewek nangis itu wajahnya gak banget. Sumpah.
            Masih di depan Bank. Akhirnya dia diem, gak nangis lagi. Tapi si cewekku tadi gusar. Dia bilang “Beb, tembus”. Gilaaaa....... celana bagian pantatnya keluar darah. Sebelum aku diteriakin telah ngegugurin kandungan anak orang, aku bawa dia ke salah satu minimarket. Aku anterin dia di rak-rak pembalut. Dia milih merk A, tapi aku nunjukin softex merk B. Aku nanya, “Beb, bedanya yang ini sama yang kamu pegang apa?”. Aku pikir aku dapet jawaban yang logis, tapi enggak. Suasana horor kembali.
            “Aku pikir kamu bisa ngertiin aku. Masak kamu gak tau pembalut mana yang aku pakai” katanya dia dengan wajah penuh sinis.
            “Aku mana tau kamu make yang mana. Masak aku harus ngintip di celana dalam kamu?” belaku
            “Kamu tu gak pernah ngertiin aku, merk pembalutku aja gak tau”
            Dia berjalan ninggalin aku yang masih megang popok bayi. Niatnya aku mau bercanda, tapi salah tempat dan kondisi. Dia menuju kasir sambil nutupin pantatnya pakai tas. Dia lupa kalau dompetnya masih aku bawa. Akhirnya suasana berubah lagi. Dia senyum, terus manggil “Beb dompetku”.
            Intinya ketika cewek kita sedang PMS / dateng bulan, cowok yang baik adalah cowok yang jadi boneka. Sebab kalau salah sedikit aja, kata “PUTUS” yang akan keluar dari mulutnya. Entah seperti apa aku juga kurang tahu, tingkat emosi seorang cewek itu juga dipengaruhi sama darah kotor yang keluar dari itunya.

Thursday, January 2, 2014

Naruto Bahasa Jawa


            Saat aku selesai posting cerita yang sebelumnya, alias “Siklus Anak Kos”. Ada temenku yang pesan satu cerita “Naruto Bahasa Jawa”, dia adalah Rakaa Araa. Sempat aku kaget dan teriak-teriak kayak orang gila naek angkot, ketika tau permintaan yang ngebunuh karakter Naruto yang selengek’an itu. Jujur, aku sendiri juga suka sama serial Anime Naruto. Sebenarnya aku sempet radak nolak permintaan si Rakaa Araa dengan bilang kalau cerita-cerita di Bloggku ini adalah “cerita nyata” (sedangkan Narito, adalah karangan, terlebih make Bahasa Jawa, itu naruto Medog jadinya). Sampe aku mikir ekstrim, aku ingin ngelus-ngelus tu muka Rakaa Araa dengan pantat monyet, agar dia mengurungkan niatnya pesan cerita aneh ini. Tapi, berhubung monyetnya sedang main di film kartun Madagaskar, maka ku urungkan niatku ngelus-ngelus si Rakaa Araa pake pantat monyet.
            Sempat aku berfikir, apa aku harus ikut Naruto dalam misi ngejar sasuke, terus aku ngajarin dia Bahasa Jawa? Tapi kayaknya itu gak mungkin, pasti Naruto ngelarangku dengan bilang “Aliph, misi ini berbahaya”. Terus aku berfikir lagi, apa Naruto aku suruh ke Indonesia? Itu tambah aneh lagi, karena Naruto gak mungkin jadi TENAGA KERJA ASAL KONOHA, tar jadinya Si Naruto pakai gerobak trus jualam Mie Ramen, bangkrut dong Mie Ayam langgananku. Lantas, bagaimana aku bikin cerita yang kayak gini? Akhirnya aku ngecoba bayangin Si Naruto dan kawan-kawan ngomong pake Bahasa Jawa.
            Misalnya Naruto sedang ada misi dengan timnya, yaitu : Naruto, Guru Kakashi, Sakura, dan Sai.
Naruto            : “Koe-koe, senengane gawe rusuh” teriak naruto pada musuh-musuhnya
Guru Kakashi           : “Naruto, Sakura, Sai. Sikat wong kui-kui” Perintah Kakashi
Sakura           : “Iyo Guru, tak jotose wae. Tak jotos gowo jurusku” Tegas Sakura.
Sai      : “Haduh, ngriwili”
            Aneh kan?
            Kalalu ini, kisah persahabatan antara Naruto, Sasuke, dan Sakura.
Naruto            : “Sasukeee, njenengan mbok yo wangsul teng Konoha” teriak Naruto pada Sasuke.
Sasuke          : “Emoh aku, aku jek pengen sinau jurus-jurus karo Orochimaru, aku pengen mateni Itachi seng kake’ane” kata sasuke.
Naruto            : “Tapi Sasuke, dewe ki konco. Kae lo konco-konco neng Konoha ki kangen mbek awakmu” Naruto berkata dengan ekspresi menangis dan dihiasi ingusnya yang menjuntai dengan indah.
Sasuke          : “Cah-cah neng Konoha kui cemen-cemen, koe karo Sakura opo meneh”
Sakura           : Tersentak dengan ucapan Sasuke “Opo? Aku ki seneng mbek koe, tresno mbek koe Sasuke. Tapi omonganmu koyok nguno, nyesel aku tau seneng mbek koe”
Naruto            : “Kui delokno Sasuke, asline aku ki yo tresno mbek Sakura, tapi wonge luwih seneng mbek koe. Tapi koe rak mikirke prasaane” ujar Naruto.
Lalu seketika aku mbikin Naruto fersi FTV Jawa.
            Sadar kalau kualitas percakapan Naruto dan kawan-kawan akan menjijikkan jika dibuat menjadi Bahasa Jawa. Maka aku akhirnya nyerah ngebuat cerita Naruto unyu-unyu tersebut. Aku lebih suka ngebayangin Naruto main disinetron yang ada di layar kaca Indonesia.
            Sinetron-sinotron di Indonesia itu unyu-unyu, semua isinya drama laga. Dari Gajah Mada, Mahesa, Kian santan, Joko tingkir, hingga Angling Dharma, semuanya aneh. Coba bayangin kalau Naruto main sama mereka. Mungkin mereka teman yang sepadan dengan Naruto. Kalau biasanya naruto naik Kyubi (Monster dalam tubuh Naruto), ketika main di Indosiar, maka naruto akan naik Elang, atau Gajahnya Gajah Mada. Gak maksud.
            Mungkin sifat kekanak-kanakan Naruto lebih pantas untuk main perang-perangan sama Si Bolang. Mungkin juga Naruto bisa belajar dari Bolang untuk nantinya bisa digunakan dalam melacak keberadaan Sasuke. Apalah itu.
            Oke, mas Rakaa Araa, mungkin anda gak maksud dengan cerita ini. Atau Anda gak puas. Pastinya Anda berharap saya akan menulis ceritanya Si Naruto pakai Bahasa Jawa. Tapi jujur, saya gak tega ngebaca Naruto ngomong pakai Bahasa medog. Itu cukup menjijikkan.
            Buat mas Rakaa Araa, maaf untuk niat ngelus-ngelus mukamu pakai pantat monyet ya. Itu gak beneran, tapi sebenere NIAT sih. Maaf juga buat ceritanya yang emang jelek.

Wednesday, December 25, 2013

Siklus Hidup Anak Kos




            Sebenarnya tulisan yang serupa ini pernah saya tulis di akun jejaring sosial saya, facebook yang bernama “Empresa Aliph”. Tetapi di Blog ini, saya akan mencoba memaparkan yang lebih unik. Tetapi tetap bertajuk yang sama. Sesuai judulnya, “Siklus Hidup Anak Kos”. Kalau bicara siklus, jadi keingetan pelajaran sejarah dan biologi yang mebahas kehidupan. Tidak lepas juga manusia dari monyet. Tapi di zaman modern ini, bicara siklus malah kayak siklus MLM. Eits, tapi aku bukan korban MLM, tapi korban PHP, hehe.
            Kenapa mirip siklus MLM. Coba deh bayangin level-levelan MLM, ada level 1, level 2 dan seterusnya. Dan tiap levelnya akan berbeda pula uang yang nantinya didapet, ya tergantung dengan seberapa banyak korban yang didapet, simpelnya. Sedangkan anak kos, 1 bulanlah siklus kehidupanya. 10 hari pertama makan pakai ayam bakar, iga bakar dan sejenis makanan lainnya yang berharga di atas Rp. 10.000 an lah. Pada 10 hari berikutnya, lumayanlah, soto, nasi goreng pokoknya yang menengah. Tapi, pada 10 hari terakhir dalam 1 bulan, kebanyakan mie instans. Gak percaya? Saya sudah survei kepunjual makanan di kantin kampus saya.
            Tapi tetap ada hal yang bisa dibanggakan dari anak-anak kos. Merekalah salah satu pemegang pepatah, “roda selalu berputar, kadang di atas kadang juga di bawah”. Iya, mereka punya siklus dimana punya uang, dan siklus dimana tidak.
            Sama halnya seorang pekerja, awal bulan merupakan kabar yang paling mengharukan bagi anak kos. Mungkin mereka para anak kos ketika awal bulan, mereka saling berpelukan, sambil terisak tangis yang mengakibatkan ingus mereka meleleh sambil nari poco-poco dan dengan diiringi lagu We are the champions. Itulah saking terharunya mendapatkan kiriman. Gak nyambung kan lagu We are the champions sama tari poco-poco. Terlalu mendramatisir nampaknya.

Tuesday, December 24, 2013

Si Biru dan Si Putih




Pada tulisan ini, aku akan ngebahas tentang nasibku yang anjlog drastis setelah ganti motor. Sebelumnya, aku akan ngebahas foto yang mio putih diatas itu dulu. Itu ketika sewaktu aku pulang kerja disalah atu restoran burger di Semarang. Malam itu ketika aku pulang kerja, aku nongkrong di Simpang lima (pusat kota Semarang), mestinya motor gak boleh parkir di samping lapangan. Tapi karena iseng dengan tulisan yang ada difoto, aku nekat parkir di situ. Alhasil ada mobil Satpol PP yang menghampiriku, dan berkata “Mas, kalau parkir jangan di jalanan gitu, lebih menjorok ke lapangan mas”. Heran, berarti secara gak lagsung Petugas Satpol PP mengijinkanku untuk melanggar aturan.
Oke, kembali ke topik.
            Selama ini, aku baru ganti motor sekali, jadi total motor yang pernah aku miliki Cuma 2 motor. Motor biru yang ada difoto itu sudah nemenin aku selama kurang lebih 7 tahun. Banyak kenangan yag aku habiskan dengan motor itu, dari mboncengin 13 pacarku, hingga nabrak bapak-bapak tukang sayur. Jupiter Zku itu merupakan motor yang baik, dari keluarga yang bibit-bebet-bobotnya jelas, dan yang pasti dia motor yang sopan. Semua anggota keluargaku sayang sama si Jupiter. Pernah mantanku nyuruh aku ngejual si Jupez (Jupite Z).
            “Beb, ganti motor aja gitu”
            “Kenapa emang? Motor ini tu banyak kenanganya” jawabku
            “Gak gitu. Ganti aja sama yang lebih muda”
            “Tapi, motor ini tu temen paling setia, bahkan lebih setia dari mantan-mantanku”
Dan ternyata benar, motorku lagi-lagi lebih setia dari si mantanku tadi. Selang beberapa bulan setelah putus dengan mantanku tadi, aku pergi ke Jakarta karna ada kunjungan ke KEMENDIKBUD. Setelah pulang dari Jakarta, si Jupez sudah dijual. Aku sempat merengek, minta untuk ditunjukin alamatnya si Jupez yang baru. “Udah iklasin, Jupez udah sama orang lain, kalau kamu kayak gini, gimana sama kelangsungan kamu dengan motormu yang akan datang. Move on lip” kata nyokapku menghibur.
            Selang 3 hari berikutnya, datang motor baru dalam kehidupanku. Layaknya pacaran, aku pun melakukan PDKT dengan si Mio putih dan aku panggil dia Mipu. Mipu lebih kece dibandingkan si Jupez, tapi kenangan-kenagan bersama Jupez tidak bisa hilang dengan mudah. Susah untuk Move on dari si Jupez. Meski begitu, mau tidak mau aku harus sering jalan bareng dengan Mipu. Dan akhirnya aku bisa! Bisa untuk menyayangi si Mipu. Tapi, entah dimana sekarang kamu si Jupez, ku harap kamu baca tulisan ini, ingat aku tetap sayang kamu, dan semoga kamu sekarang bersama orang yang tepat dan bisa menjagamu layaknya aku menjaga dan menyayangimu.
            Setelah berganti motor, nasibku juga berubag total. Kata teman-temanku, karismatikku turun drastis ketika berganti motor. Dari yang si Jupez yang selau mendatangkan cinta untukku, tetapi sekarang, Si Mipu tak sehebat Si Jupez dalam hal percintaan. Padahal secara fisik, si Mipu jauh di atas dari si Jupez.
            “Lif, cewekmu siapa sekarang?” tanya teman cowokku ketika sedang aku boncengin.
            “Hah, gak ada. Gak punya”
            “Masak motor baru pacar juga gak baru”
            “Emangnya ada gitu pacar yang dijual, trus jualnya eceran gitu? Atau dikredit?” tanyaku.
            “La emang cewek itu kamu anggep krupuk. Mungkin kamu belum bisa Move On dari mantanmu lif” Seketika aku terdiam, mungkin temanku benar. Bukan masalah ganti motor, tapi di sini, di hatiku. Ganti motor itu kayak ganti pacar, harus ada masa-masa pembiasaan.

Sunday, December 15, 2013

Potong Rambut Bergaransi




Aku memiliki seorang teman ketika SMA, namanya Samsudin. Kalau ditanya diskripsi orangnya, dia mirip UPIL. Kecil, item, udik, dan mungkin asin. Samsudin merupakan teman seperjuanganku dalam masa-masa keculunan SMA. Meski mirip upil, Samsudin merupakan salah satu murid kesayangan dari guru sosiologi di sekolahanku. Saking sayangnya, Samsudin diberi uang buat potong rambut karena rambut dia sudah terlampau panjang. Bisa dibayangin, ketika ada manusia kerdil mirip upil memiliki rambut yang gondrong. Ya, UPIL GONDRONG jadinya.
Aku masih inget detik-detik si Samsudin diberi uang, tapi ini aku buat mendramatisir. OK.
“Samsudin anakku, rambutmu sudah terlampau panjang. Apakah kau tidak mau potong rambut?” Kata guruku.
“Ampun baginda guru. Sebenarnya saya ingin potong rambut, tetapi saya sedang tidak punya uang”
“Sini anakku. Kamu sudah bapak anggap anak sendiri. Maka dari itu, bapak beri kamu uang, tetapi besok harus sudah potong rambut”
Sekelas bersorak. Bukan karena bangga terhadap guru kami yang berwibawa. Tetapi wabah kutu yang akhir-akhir ini Samsudin sebarkan, akan hilang sudah. Dan kami harap hari-hari esok akan menjadi hari-hari kami tanpa kutu rambut.
Sebagai pemilik rambut berombat khas Indonesia, tentunya memilih gaya rambut menjadi hal yang membingungkanku. Mau direbonding, takut disangka niru gayanya Andika KangenBand. Mau dibuat gimbal, tar disangka penerusnya Mbah Surip. Pernah aku gondrongin, bukan kayak UPIL GONDRONG, tapi kata temenku malah kayak SETAN UPIL.  Akhirnya aku tetap dengan gaya yang senatural mungkin. Setidaknya itulah yang bisa aku lakukan.
Suatu malam aku pergi ke tempat pangkas rambut dekat rumahku. Ketika sudah nyampe, ternyata antre lumayan banyak. Waktu antre, aku habiskan untuk smsan dengan gebetanku. Sari namanya. Lupa mengisi pulsa, pulsa abis. Mau beli, tapi sudah waktunya rambutku dieksekusi. Untungnya aku masih punya pulsa internet, dan aku coba menghubungi sepupuku yang jualan pulsa via whatsapp.
“Bang, mau potong apa bang?” tanya tersangka pemotong rambut.
Sambil masih megang HP, aku duduk dikursi kayu bekas pantat kakek-kakek beruban yang potong sebelumku. “Biasa aja mas, yang penting belakang sama sampingnya radak ditipisin ya mas. Soalnya cepet panjang” terangku pada mas-mas berjenggot itu.
Dengan masih memainkan HP, aku konsen menghubungi sepupu perempuanku yang ternyata dia sedang ribut dengan pacarnya. Alhasil aku malah jadi tempat curhatanya. Aku masih inget isi curhatanya.
“Lif, bayangin aja. Aku tu capek pulang kuliah. Udah di kampus judul skripsiku ditolak. Sampe rumah malah adekku mipisin tempat tidurku, eh pacarku sendiri gak bales smsku lif. Bayangin........ Sory, saldo pulsaku abis”
Sesuai perintah sepupuku, aku bayangin. Dan aku menarik sebuah simpulan. Capek kuliah? Gak usah kuliah. Kasur dipipisin adik? Pipisin gantian aja. Masalah pacar gak bales sms? Entahlah. Memang ya, punya sepupu cewek itu? Entahlah. Dan kesimpulan yang terakhir, sepupuku adalah salah satu tersangka PHP. Kenapa gak dari tadi bilang kalau gak ada saldo.
Setelah asik jadi korban PHP, aku sama sekali gak ngeliatin kerjaannya sipemotong rambutku. Setengah kaget aku kaget.
“LOH MAS...... ini kenapa model rambutku mirip potonganya monyet-monyet yang dilarang di Kota Jakarta?” setengah kaget, tapi kaget.
“Loh bang, katanya yang samping sama belakang ditipisin. Berarti yang tengah atas dibanyakin dong bang” terangnya.
“Ini kalau saya ke Jakarta dikira topeng monyet. Dan bisa-bisa nanti saya dikarantina sama Pak Jokowi. Gak mau mas (sambil kencing di celana). Balikin rambut saya mas, balikin......”
Setelah memperhitungkan segala sesuatu hal. Akhirnya saya pahami. Tidak ada tempat pangkas rambut bergaransi. Begitu pula dengan cinta. Sebanyak-banyaknya kita berkorban ke pasangan kita, belum tentu kalau kita sudah putus denganya, maka cinta kita akan dibalikin. Karena cinta tidak ada garansinya.

Tuesday, December 3, 2013

Telat 4L4Y



            Istilah “Telat 4L4Y” ku dapat dari salah seorang sahabatku yang bernama unyu-unyu, Alink. Semoga dia baca tulisanku ini, dan semoga ke unyu-unyuanya segera disahkan oleh UNESCO. Oke, tulisanku saat ini bukan semata-mata membahas 4L4Y saja. Aku pakai judul sedemikian rupa karena istilah terebut masih terngiang-ngiang difikiranku.
            Aku rasa anak-anak muda Indonesia itu tidak mempunya konsistensi yang stabil. Coba bayangkan ketika mereka melihat orang 4L4Y, pasti mengatakan “hih, orang kok pakaianya kayak pelangi. Baju merah, celana biru, sepatu kuning, rambut dicat hijau. Hih 4L4Y”. Tapi kalau mereka melihat Boysband korea, atau aliran K-POP, pasti mengatakan cakeplah, kerenlah. Dan mereka menolak jika idola mereka dikatakan berpenampilan 4L4Y. Satuhal tentang orang 4L4Y, orang 4L4Y tidak akan masuk surga. Melainkan akan masuk 5URG4.
            Bicara tentang tren berpenampilan anak muda Indonesia, mereka itu cemen. Hanya bisa ngikutin gaya berpakaian orang lain yang terlihat bagus dimata mereka. Meskipun barang yang mereka pakai KW (imitasi).
            Saya pernah suatu ketika melihat orang memakai kalung tasbih.
            “Mbak, mbaknya ngefans sama Syah Puji ya?”
            “Enggak kok mas, kenapa?” tanya balik.
            “La itu, kenapa sok-sok’an makai kalung tasbih”
            “Owh ini mas. Kan lagi ngetren mas” bela mbaknya.
            “Kirain salah satu istrinya Syah Puji. Padahal tasbih buat dzikir kan mbak? Apa jangan-jangan tahlilanya mbak di diskotik?” tanyaku. Mbaknya diem, lalu masang muka nyolot. Biarlah.
            Aku juga pernah liat seseorang yang sok elit. Punya dua handphone, Blackbarry dan Android. Memang keliatan berkelas, tapi Blackbarry yang dibawanya CDMA yang harganya murah, itupun belinya seken. Dan Androidnya gunta-ganti SIM-CARD, katanya ngincer bonusan internet. Alhasil dia sama sekali tidak mempunyai no yang bisa dihubungi secara konsisten.
            Menurutku, cobalah untuk berpenampilan apa adanya. Menjadikan penampilan yang minimalis tetapi secara optimal. Tidak berlebihan. Gak usahlah sok-sok’an ngikutin tren, padahal kita tidak bisa ngikutin. Atau, buatlah dirikita sebagai pusat tren (membuat tren sendiri). Jika takut ketinggalan jaman atau dianggap kuno, atau yang lebih parahnya kalau takut gak dilirik lawan jenis. Berarti kalian-kalianlah yang memang ngerasa gak percaya diri. Dan kalian takut gak laku.