Tuesday, July 8, 2014

Cara mencoblos pilpres




            Tenang saja, ini bukan kampanye gelap, karna saya mbikin tulisan ini pas lampu kamar saya tak nyalain. Atau bahasa kerennya Black campaign, BlackBerry, Black Forest atau Black-black lainya. Tenang saja, ini bukan, ini hanya tulisan biasa dari salah satu putra bangsa yang nantinya mecoblos salah satu calon presiden dan wakil presiden (keren kan bahasanya). Tulisan ini hanya dibuat untuk hiburan semata.
Ini dia tutorial yang boleh atau tidak boleh dianggap penting :
1.    Pastikan umur anda cukup. Tenang saja, anak ALAY boleh nyoblos kok, anak ALAY boleh menentukan nasib bangsa ini.
2.    Pastikan kita membawa surat pemberitahuan untuk mencoblos (biasanya surat C6) yang sudah dibagikan petugas TPS beberapa hari sebelumnya. Pastikan kita membawa surat tersebut yang bernamakan diri kita ke TPS, ingat jangan membawa punya nama bapak kita, ibu kita, atau mantan kita.
3.    Biasanya TPS buka jam 7 pagi. Bawa surat C6 tersebut ke TPS dan serahkan ke petugas TPS, bukan ke TPQ.
4.    Setelah kita berikan ke petugas, kalau tidak ramai pastinya kita akan langsung diberikan surat suara. Tapi kalau ramai biasanya kita antre terlebih dahulu. Tenang, nunggu urutan nyoblos itu tak selama nunggu jodoh kok.
5.    Setelah kita mendapat surat suara, kita akan diberikan waktu untuk mencoblos di dalam bilik. Ketika di dalam bilik, kita cukup membawa surat suara tadi. Ingat, kita gak perlu membawa laptop, PS, atau membawa bekal makanan.
6.    Ketika di dalam bilik, cobloslah salah satu pasang calon presiden dan wakilnya. Cobloslah di dalam kolom gambarnya, jangan coblos mata petugas, jangan coblos boneka santet, dan pastinya jangan coblos foto mantan, karna itu sama sekali gak ngaruh.
7.    Setelah mencoblos, lipat kertas suara tadi, cukup dilipat saja, gak perlu disetrika kok. Lalu masukkan di kotak suara, jangan di kotak amal.
8.    Lalu lewatlah pintu keluar, jangan lewat dapur karna di TPS gak ada dapurnya. Dan jangan lupa, tandai salah satu jari kita dengan tinta yang sudah disediakan petugas.
Demikian 8 tutorial yang boleh dan gak boleh dianggap penting. Pastikan anda datang dalam keadaan waras ke TPS. Buat anak ALAY “suara kalian bisa menentukan nasib bangsa ini”.

Sunday, June 8, 2014

Ini Bukan Kelasku



            Lama juga gak ngebuka blogg. Terakhir mbuka blogg, bloggku tak kasih ikan lele, berharap nantinya jadi gede tu lele, tapi malah hilang lelenya. Kayaknya dimakan sama kucing alay tetangga. Sempet sebel sama kucing alay tersebut, rambutnya belah sebelah, matanya sok-sok sipit, bulunya diwarna-warniin, dan kalau jalan bunyinya “meeeeeeeong, me me me meong”. (Nah loh, kok ngomongin hal yang gak mungkin). Oke, kita ke jalur bloggku yang sebenarnya, yakni “kisah nyata”.
            Perlu dicatat, nama saya adalah Teguh Alif Nurhuda, mahasiswa culun (emang) semester 6 yang mengambil program study Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Sudah selayaknya aku yang calon guru bakalan ngrasain yang namanya PPL, atau bahasa kerenya “pura-pura ngajar”
            PPL dimulai pada semester 7. Di semester 6 ini, aku harus melalui mata kuliah micro teaching (keren kan namanya) micro itu kecil, teaching itu pengajaran. Jangan dikira ngajar orang-orang kerdil kayak Daus Mini, Adul dan kawan-kawan seperminian. Tenang aja, gak seunyu yang kalian kira. Intinya belajar untuk mengajar.
            Di akhir pembelajaran micro teaching, kami diharuskan untuk praktik ngajar sungguhan di salah satu sekolah. Dan pada akhirnya aku dapat jatah ngajar anak SMA kelas X (SMAnya di samping kampusku) dengan topik pembelajaran “Menulis Surat Izin”. Nah gini ceritanya.
            Janjian di sekolah pukul 06.30. Aku datang pukul 06.28, dan…. Semuanya pada telat, dosenku aja yang buat peraturan juga telat. Ketika kami diberi pengarahan oleh Kepsek, salah seorang guru di sekolah tersebut mengingatkan, “Murid di sini itu beda dari sekolah yang lain, mereka bawel, jahil, brisik, susah diatur dan lain-lain”.
            Ketika masuk kelas, benar siswa-siswa di sekolah ini kayak curut semua, ngelebihin daus mini ngeselinya, saking ngeselinya aku gak berani njilat muka mereka. Ada yang sok-sokan nyanyi-nyanyi, ada yang teriak-teriak kayak orang utan telat alay. Ada yang nyanyi-nyanyi sambil teriak-teriak. Ada yang teriak-teriak tapi sambil cebok. Ada yang nyanyi-nyanyi yang suaranya kayak pantat belum cebok. Tapi pada akhirnya aku pandangin mereka, aku bayangin mereka kayak terong-terongan, cabe-cabean, pare-parean, toge-togean, sayur-sayuran #stop!!! Kayak mau bikin pecel aja.
            Aku menyuruh salah satu siswa yang bernama Awang.
            “Awang, sini maju. Tolong jelasin ke teman-teman kamu, apa itu surat” suruhku pada salah satu siswa yang terlihat badung.
            “Lah, kok bapak nyuruh saya ngejelasin. Gurunya kan bapak” jawab Awang dengan muka nyengir.
            Akhirnya aku pasang ekspresi faforitku, muka datar. Dalam hati, aku teriak, “Iya aku tau kalau aku di sini itu gurumu kampreeeeet”. Dengan menghela nafas, aku akhirnya teriak “Ada yang bisa bantu Awang? Awang kesusahan ngejawab apa itu surat?”
            Dan akhirnya, jawaban yang aku dapet dari 29 siswa yang otaknya somplak adalah “GAK ADA YANG BISA JAWAB PAAAAAK” Sumpah, itu nyesek
            Terus aku liat ada siswa yang kayaknya aktif dalam pelajaran, “Coba kamu bantu bapak jelasin”.
            Dia menatapku, dan aku menatapnya, mata kami saling tatap-menatap, dan mata kami hampir menempel (Gak segitunya juga kali’). Dengan suara datar dia bilang “Aku tau jawabanya, tapi aku gak mau ngejelasin”.
            “La terus bagaimana kamu bisa ngejelasin ke teman-teman kamu? Apa kamu mau smsin satu-persatu?” Tanyaku dengan suara yang tak kalah datar.
            “Itu ide yang bagus pak” itu jawabnya. Singkat, padat, dan bikin nyesek.
            Tak terasa 1 jam pelajaran sudah selesai. SEMUANYA GAGAL. Metode pengajaranku ancur, media pembelajaranku gak ada gunanya, tekhnik pembelajaranku gak jalan. Dan AKU KORBAN PHP SISWA-SISWA yang somplak.
            Ketika pelajaran selesai, ada yang nanya. “Kak, besok ngajar di sini lagi gak?”, dengan bangga aku jawab “OGAH…. Kalian badung, bahkan kalian lebih badung dari anak TK yang masih suka njilatin ingus mereka yang terkadang menjuntai. Emang kenapa?”
            “Gakpapa sih, soalnya males sama gurunya. Udah tua, jelek, lola pula”
            Aku pandang guru yang dimaksud. Emang bener sih.
Itu foto yang di atas adalah foto bersama. Yang di tengah itu guru yang dimaksud. Dan jika kalian nanya aku yang mana? Tenang, aku yang lagi gaya garuk-garuk pantat sambil mbantuin dinosaurus ngupil di belakang kamera.

Tuesday, April 29, 2014

Si Anak Monyet Berbulu Lebat









            Awal masuk SMP masih kayak biasanya. Saking biasanya, ya biasa masih kayak orang bodoh. Tapi, di SMP lah, aku kenal cewek berbody kecil, berponi indah, berkucir pita merah satu yang terlihat rapi menghias kepalanya. Ani namanya.
            Terlihat kecantikanya ketika aku berjalan sambil menganga dan pada akhirnya, aku tersandung. Aku jatuh dua kali. Yang pertama terjatuh dan hampir nyemplung di kubangan. Memang kagak sakit, tapi malunya itu. Tapi aku sadar, kemaluanku tak seberapa. Jatuh yang kedua yaitu, “jatuh cinta” kalau ini juga gak sakit, tapi sadar diri aja. Meski dia cewek berbody kecil, tapi aku juga berbody lebih kecil.
            “Kok bajumu kotor kena lumpur? Main kubangan to?” Itu pertanyaanya ketika di awal percakapan kami.
            “Gak main kubangan kok, Cuma tadi nyemplung, habisnya gerah, hehe” Jawabku.
            “Kamu lucu juga ya, aku Ani Eriyanti. Nama kamu?”
            “Aku Teguh Alif, salam kenal ya”
            “Iya”
            Sejak itu kami jadi sering bermain bersama. Tapi syukurnya, gak main kubangan. Di kelaspun, aku memilih duduk satu baris di belakangnya. Waktu itu, aku niat banget ngedeketin dia. Tapi semua usahaku terganjal karna satu hal, aku pendek. Bahkan dia memanggilku si cowok kontet. Memang kala itu aku belum sunat. Mitosnya, cowok kalau tititnya udah dipotong, maka tinggi badanya akan bertambah. Sayangnya si tititku belum berani dirapiin.
            Suatu pagi di kelasku, ada sebuah insiden. Ada salah satu teman sekelasku yang juga naksir si cewek berkucir satu tersebut. Dia minta tempat dudukku yang memang tepat di belakang si Ani. Jelas aku nolak. Tapi apa daya, temenku itu tadi berbadan cukup besar, gempal pula. Kalau kala itu bodyku kecil mirip bayi monyet berbulu ketek lebat. Tapi temanku ini berbody gempal mirip anak gajah berhidung pesek. Walau anak gajah, tetap saja anak monyet tak bisa mengalahkan anak gajah.
            Tapi anak monyet tak habis akal. Si anak gajah tadi terus-terusan menggangguku yang tetap mempertahankan tempat dudukku. Di kala itu, aku masih inget petuah Bapakku, “Jadi cowok itu jangan cemen, lawan saja”. Beneran, aku lawan. Di penghujung akhir pelajaran, ku putuskan untuk membalas perbuatan si anak gajah tadi. Aku pegang pensil, aku tusuk kaki anak gajah tadi dengan pensil. Aku berharap dia kempes dan berubah menjadi anaknya anak monyet. Tapi, gagal kempes.
            “Kampret ya, nantang!” Teriaknya si anak gajah. Ditariknya aku menuju luar kelas. Dicekiknya aku, ditaboknya aku. Aku tetap melawan, pensil yang ada di tanganku, ku gunakan sebagai senjata. Tapi gagal, ditepis tanganku, dan diludahinya aku. Bisa dibayangkan, anak gajah menyiksa anak monyet berbulu lebat. Sungguh, tersiksa.
            “Masih mau nantang” Bentaknya.
            “Masih mau nantang!!!!!!” Teriaknya tambah keras. Dan aku hanya bisa berharap ada guru.
            “Ampuuuuuuun” Dengan bangga aku nangis.
            (Kayaknya cukup deh nyeritain bagian ini, “malu”)
            Sejak insiden tersebut, aku sudah tak duduk di bangku belakang Ani. Dan aku pun tak sedekat dengan Ani seperti dulu. Mungkin Ani ilfil dengan cowok cengeng, atau mungkin dia ilfil deket cowok kontet. Entahlah, yang pastinya dia ilfil dengan cowok mirip anak monyet berbulu lebat, ya itu aku. Tapi aku yang sekarang bukanlah yang dulu, sekarang aku lebih tinggi. Tapi, tetap pendek jika dibanding cowok seumuranku, dan aku tetap culun.

Sunday, April 6, 2014

Mantannya Si Pacar



Pernah gak kalian punya pacar, tapi dia punya mantan yang kampret banget?
Jadi gini ceritanya.
Pada suatu malam minggu, ketika aku keluar nyari makan sama pacarku. Emi namanya. Di sebuah warung bakso, ada sms di hp pacarku. Dari mantanya. Anggap saja namanya si kampret. Karna pacarku gak enakan sama aku, ditunjukinlah smsnya si kampret ini. Isinya kayak gini, “Emi, kamu di rumah gak?”. Aku suruh si Emi untuk jawab terus terang, kalau kami lagi keluar sebentar dan mau balik rumah. Tapi karena gak enakan sama aku, akhirnya aku yang balas smsnya si kampret tadi.
Aku                 : Iya, aku udah pulang kok. Tapi lagi keluar sama pacarku, lagi makan. Kenapa?
Si Kampret    : Gak papa. Lama gak jumpa saja. Boleh main gak?
Aku                 : Ya gak papa to kalau mau main. Tapi ada pacarku kok.
Si Kampret    : Emang kamu makan di mana?
Aku                 : Deket rumah kok.
Si Kampret    : Masih lama?
Aku                 : Bentar lagi abis kok.
Si Kampret    : Yaudah aku tak ke rumahmu sekarang.
Aku                 : Yaudah.
Pada akhirnya, pacarku protes kenapa aku ngebolehin si kampret main ke rumahnya. Aku katakan sama pacarku, bahwa menyambung tali silaturahmi itu baik dan perlu. Tapi, di dalam hati aku juga merasa aneh. Tu kapret mikir apa kagak? Masak mau ngapelin mantanya padahal si mantanya itu lagi diapelin sama pacarnya. Ibarat nyari obat panu di toko bangunan. Yang didapet bukan obat panu, tapi adanya semen.
Setelah menghabiskan bakso, dan tak lupa membayarnya, kami balik ke rumah pacarku. Selang beberapa saat, terdengar suara motornya si kampret. Emi pun berdiri di depan dengan wajah mirip orang kebelet pup. Diantara kegelisahanya, dia nanya ke aku, pacarnya.
“Sayang, gimana ni?” Tanyanya.
“Ya suruh masuk aja, apa susahnya. Kecuali kalau rumahmu masih perawan. Baru susah masuknya”
“Tapi kan di rumah ada papa sama mamaku. Yo aneh aja to”
Tiba-tiba adiknya si Emi yang baru kelas 2 SD. Ari namanya. Keluar dengan ingusnya yang terjuntai dengan indahnya menghampiri si kampret tadi. Si Ari tadi belum paham kalau kakaknya itu belum putus sama si kampret tadi. Dan dia juga belum tau kalau aku ini yang kagak kampret udah jadian sama kakanya. (sumpah, ini lumayan nyesek). Dengan setengah teriak si Ari yang belum mengetahui keadaan bilang “Maaaaaaa, ada mas ......... (anggap aja namanya si kampret)” dari dalam rumah mamanya denga tak kalah keras menjawab “Apaaaaaaa!!!!!!” Belum sampai ke depan rumah, mamanya si Emi tak mendapati si Ari dan si Kampret tadi. Ternyata si kampret tadi mengajak si Ari keluar. Dan terjadilah drama antara si anak yang memiliki mimik muka nahan boker dengan si ibu-ibu telat alay.
“Katanya ada si....... (anggap aja namanya si kampret)? Terus di mana adikmu?” tanya sang ibu pada anaknya.
“Iya, Ari diculik sama si ........ (anggap aja namanya si kampret)”
“La kok bisa? Di sini ada Aliph, kok si kampret dateng? (capek nulis “anggap aja namaya si kampret”)”
“Ya gak tau dia, padahal juga udah tak kasih tahu kalau di rumah ada kak Aliph”
“Emag si kampret tadi tu gak punya kemaluan” Pernyataan yang mendalam dari seorang ibu.
Pada akhirnya si kampret tadi balik dan membelikan Ari sebotol minuman bersoda. Modus yang cukup baik untuk menyogok anak ingusan. Tapi kalau boleh jujur, sogokan tadi malah memperparah Ari, kenapa? Karena minuman soda tadi memperparah keadaan Ari yang sedang ingusan. (Kenapa mbahas ingus?).
Usut punya usut, si kampret ternaya takut sama mamanya si Emi. Jadi setelah mengembalikan Ari denga ingusnya, si kampret tadi langsung nyelonong. Padahal aku pengen banget lihat wajahnya si kampret. Emang kampret tu si kampret.

Sunday, March 23, 2014

Bekas Botol Minyak Wangi




            Terkadang orang harus berduka cita untuk botol minyak wangi mereka yang habis. Mungkin sebagian orang takut untuk tidak wangi. Beli, itu cara paling simpel. Tetapi, terkadang uang tidak terduga kapan hadirnya. Apa lagi anak kos. Ada beberapa orang yang mungkin mampir di mini market untuk sekadar mampir di rak parfum (gratis) tapi nanti wanginya rame. Kalau menurut aku pribadi, kalaupun bau, toh bau juga tidak terlihat. Kita bisa ngumpet diantara orang-orang, ya biar tidak tercium mungkin.
            Tapi apalah itu, bekas botol minyak wangi harus dibuang. Tapi kalau mantan yang pernah mengharumkan hidup kita?
            Mantan? Apa itu? Cerita lama.
            Ada percakapanku dengan Casa (Cewek bernama merek parfum) sewaktu dulu kami pacaran.
            “Beb, ini kan aniv kita yang ke 4 bulan. Kamu masih sayang aku kan?” tanyaku waktu itu.
            “Masih kak. Kak, jangan tinggalin aku ya” kata simantanku.
            Di atas motor Jupiter Zku, aku senyum-senyum sendiri mendengar pernyataan Casa, mirip waria yang baru dapet job. “Iya, aku gak akan bakalan ninggalin kamu kok Beb. Beb, boleh minta dipeluk?”
            “Boleh” dipeluklah aku.
            Jleb, deg-degkan aku. Serasa dekat dengan kematian.
            Aku pun dijalan tambah cengengesan. Sekarang udah gak kayak waria yang dapet job. Melainkan mirip orang gila yang biasanya di jalan-jalan yang gak make celana, sehinnga tititnya geal-geol sambil nyanyi-nyanyi.
            Terbukti, aku tidak ninggalin dia. Tapi dia yang ninggalin aku. Padahal aku sempat nangis terisak-isak sampai menghabiskan seprei kasurku, tapi tetap saja gagal. Dia balikan sama mantanya yang gak punya kemaluan, sehinnga mantanya gak bisa pamer titit kayak orang gila yang bisa nyanyi-nyanyi. Ya mungkin Casa udah diguna-guna. Atau titit simantanya Casa udah jadi tumbal buat nyantet si Casa? Casa = titit.
            Pantaskah aku menangisi Casa?
            Toh sekarang dia sudah putus lagi sama simantanya. Mungkin efek guna-gunanya sudah hilang. Dan diperlukan titit lagi untuk mengguna-guna si Casa lagi.
            Awalnya memang kehilangan mantan itu pedih, lebih pedih kehilangan kentut. Percaya deh. Biasanya kalau habis diputusin sama pasangan kita, maka kita akan 1. Susah  tidur, 2. Gak nafsu makan, 3. Nangis terus, 4. Kurus, miriplah sama gejala tifus. Tapi bedanya sedihnya habis diputusin itu terlalu mendramatisir, contoh di drama-drama FTV yang alay-alay gitu.
            Seharusnya gak harus sedramatisir gitu. Tetapi entah dramatisir ketika diputusin itu mungkin warisan nenek moyang. #coba bayangin manusia purba yang abis diputusin. Dan akhirnya mendramatisir ketika diputusin itu sudah menjadi warisan atau adat istiadat dalam sebuah etnik kehidupan bermasyarakat. Dan nantinya mungkin akan diresmikan oleh UNESCO.
            Dan pada akhirnya mantan adalah mantan, sama seperti botol minyak wangi. Kalau sudah habis, apakah botolnya akan kita simpan? Jelas tidak. Apakah ketika cinta dari seseorang sudah habis,  kita akan tetap mengharapkan wanginya? Tidak pula kan. Mantan adalah minyak wangi yang sudah habis. Dan botolnya sudah harus dibuang. Mantan? Cerita lama.

Monday, March 10, 2014

KARENA DAN UNTUK HIMA DIBATRASIA

 
Sudah lama kagak posting dan buka blogg. Layaknya rumah yang sudah lama tidak dihuni, pasti isinya debu, rumah laba-laba, dan mugkin ada tikus yang berkeliaran. Saat aku selesai nulis tulisan ini di word, dan mau posting, jelas aku khawatir bloggku kondisinya kayak rumah yang sudah lama tidak dihuni. Aku takut bloggku berdebu, bayak sarang laba-laba, dan jika di bloggku ada tikus, aku mau kasih kucing, biar tikusnya dikejar-krjar kucing.
            Terakhir aku posting pada bulan januari 2014. Sekarang sudah bulan maret. Total pada bulan februari aku fakum menulis. Sebenarnya ada hal menarik yang terjadi pada bulan februari, tetapi aku akan menceritakan hal menarik lain pada bulan maret.
@@@@@@@@@@
            Pada tanggal 1 maret, adalah hari dimana aku sudah tidak menjabat Ketua Himpunan Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Unissula. 2 tahun aku menjabat diposisi ketua, padahal aku berharap diposisi penjaga gawang. Pada kesempatan ini, aku akan menceritan bagaimana HIMA DIBATRASIA Unissula (Himpunan Mahasiswa Pendidikan Bhasa dan Sastra Indonesia) itu ada.
            Sutu siang dimana kala itu, aku adalah Mahasiswa biasa tingkatan semester 2. Bersama teman kandungku, Ulil Albab, 2 Mahasiswa culun ini memulai petualanganya ke IKIP PGRI Semarang. Kenapa kami ke IKIP? Kami adalah Mahasiswa angkatan pertama, dan belum ada suatu wadah organisasi yang berkaitan dengan jurusan kami, yakni Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia.
            Tidak mudah untuk bertemu salah satu pengurus HIMA PBSI IKIP PGRI, kami harus merasakan apa yang namanya diPHPin. Kami nunggu dari pukul 11 siang, tetapi baru bisa ketemu pada pukul 2 siang. Layaknya mahasiswa yang IQnya rendah, kami hanya bisa melongo melihat grombolan Mahasiswa IKIP PGRI yang tidak kalah culunya dari kami, karna mereka memakai pakaian hitam putih layaknya sales. Kami bertemu dengan Mas Arif, salah satu pengurus HIMA PBSI IKIP PGRI.
Setelah mendapat pengarahan tentang apa-apa saja yang harus dipersiapkan dalam membentuk organisasi baru, kami pamitan pulang. Dan akhirnya kami pergi dari krumunan sales.
Di tengah perjalanan pulang, Ulil berkata
“Bray, haus gak?”
“Haus sih, la gimana?” Jawabku
“Beli minum aja lah”
“Nah tu di depan ada es buh” saranku sambil menunjuk sebuah warus es yang sepi.
“Jngan disitu lah, sepi. Kalau sepi itu ada 2 hal kemungkinan. Yang pertama, GAK ENAK. Yang kedua, MAHAL” terang si Ulil tadi.
Sambil menyetir aku memperhatikan kiri-kanan, “Tuh, ada. Ramai malahan.
“Jangan yang ramai. Kalau ramai itu ada beberapa hal kemungkinan. Yang pertama, ENAK. Yang kedua MURAH, dan yang ketiga DIA PAKAI PESUGIHAN. Kamu mau minum es yang ada pesugihanya, ,isal ada kutangnya Wewegombel?”
Sejenak aku telaah kata-kata Ulil, dan aku bayangin. Kita disuguhi semangkuk es buah. Tapi isinya bukan beraneka buah, melainkan kutang, yaitu bekas penutup buah dada Wewegombel yang merupakan setan 4L4Y. Akhirnya aku hentikan laju motorku di depan warung es yang tidak terlau ramai, berharap tidak menemukan kutang yang disajikan di atas mangkuk.
“Bray, yakin disini?” Tanya Ulil.
“La mau dimana? Apa harus nurutin imajinasimu yang aneh itu? Kamu kebiasaan nonton setan-setan sih”
Setelah memesan 2 mangkuk es buah, kami pikir mungkin beberapa menit lah menunggunya. Ternyata tidak. Kami lagi-lahi jadi korban PHP. Tersangkanya adalah ibu-ibu penjual es. Sekitar 10 menit kami menunggu. Dan, tak selamanya warung lumayan ramai itu menjanjikan MURAH, ENAK, dan BEBAS DARI PESUGIHAN. Kami memang tidak menemukan kutang di atas mangkuk. Melainkan kami menemukan potongan-potongan buah yang cukup rapi. Dan kami berfikir, jangan-jangan jumlah potongan buah dan berat es kami sudah diperhitungkan.
Jika boleh difikir. Serapi-rapinya es buah, sebagus-bagusnya potongan buah, tetap saja hancur dan masuk ke dalam perut. Dan hasilnya akan dikeluarkan lagi dengan bentuk, tekstur dan bau yang sama dengan es buah yang potonganya tak serapi ini.
Selepas memperdebatkan es buah, kami balik ke kampus kami, Unissula. Sekarang PR kami adalah menyusun kepanitiaan guna membahas AD/ART HIMA DIBATRASIA dan PR kami ke dua adalah, membuat es buah yang lebih kece dari es buah milik ibu-ibu PHP.
Tepat pada tanggal 24 Maret 2012, HIMA DIBATRASIA lahir. Aku, Ulil dan teman-teman lainya adalah orang tua HIMA DIBATRASIA, kami bergantian menetek’i. Dan kami tidak membiarkan HIMA DIBATRASIA netek pada Wewegombel.
Terlepas dari konflik es buah PHP dan kutang Wewegombel. Saya ucapkan terimakasih kepada teman-teman pengurus HIMA DIBATRASIA periode 2012-2014 yang selama 2 tahun sudah menuangkan mimpi-mimpi kalian di organisasi kita. Buat Etina (Etina Sri Sajrina Ansarselaku ketua yang baru, saranku jangan lupakan sejarah dan teruslah bermimpi, karna dengan bermimpi kita punya harapan. Lewat harapanlah kita terus berfikir positif dan punya kemauan untuk mewujudkan mimpi-mimpi tersebut. Bukan seberapa besar mimpi kita yang kita miliki, tetapi sebesar apa usaha kita untuk mewujudkan mimpi-mimpi kita. (Sudah mirip ketua kan?)

Teguh Alif Nurhuda
(HIMA DIBATRASIA)